Ini Cara Karolin Hentikan Kekeerasan Terhadap Anak dan Perempuan

Ini Cara Karolin Hentikan Kekeerasan Terhadap Anak dan Perempuan

Channeltujuh.com, NGABANG -- Bupati Landak Karolin Margret Natasa mengajak tokoh adat berkomitmen menyerukan penghentian kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Hal itu disampaikan Karolin saat memberikan sambutan usai mengikuti perayaan ekaristi syukur dalam rangka Naik Dango digelar di Rumah Radakng Aya' Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Baca ini : Bupati Landak Buka Pawai Budaya Naik Dango ke 34 di Ngabang

“Dalam acara Naik Dango kali ini melalui Bahaum Dewan Adat Dayak saya ingin mengajak nantinya seluruh pengurus disetiap kabupaten bersama-sama menandatangani komitmen untuk menyerukan penghentian kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ujar Karolin, Jumat (26/4/19).

Dalam kesempatan itu juga Karolin ingin tokoh adat ikut berperan dalam mengatasi kekerasan terhadap anak di Kalimantan Barat. Melihat masih terjadi 95 kasus kekerasan terhadap anak di Kalimantan Barat berdasarkan dari data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP&PA) Kalimantan Barat di tahun 2018.

“Pada acara Bahaum saya ingin membangkitkan kesadaran bersama, dan saya ingin ada satu tema yang diangkat khusus dalam pertemuan Dewan Adat Dayak (DAD) kali ini yaitu mengenai kekerasan orang tua terhadap anak-anak juga terus meningkat dari tahun ke tahun,” kata Karolin.

Karolin berharap perangkat adat bersama pemerintah daerah dapat bekerjasama membentuk suatu peraturan untuk merespon masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Bicarakan masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam perspektif adat kita akan membakukan bagaimana susunan tata adat kita, sistem adat kita dalam peraturan daerah,” ujar Karolin.

Baca ini : Ada 20 Perlombaan Tradisional di Naik Dango Landak


Baca ini : Jaga Budaya dan Adat, Kabupaten Landak Jadi Sorotan Kaum Millenial

Lebih jauh Karolin berharap pertemuan seluruh DAD dari tiga kabupaten yang hadir yaitu Kabupaten Landak, Kabupaten Mempawah, dan Kabupaten Kubu Raya dapat menghasilan suatu kesepakan bersama untuk menuntaskan masalah dengan perspektif adat. Mengingat pentingnya suatu daerah  mempersiapkan generasi yang lebih baik dimasa depan.

“Bicara masalah sistem tata adat masih banyak yang harus kita benahi, tetapi daalam kesempatan acara Naik Dango ini kita bukan hanya berbicara mengenai keberlangsungan dari sawah dan padi yang kita tanam, tetapi juga keberlangsungan generasi yang  dimasa yang akan datang,” tukas Karolin mengakhiri.*/


Laporan : Deckie


Bagikan :